Membuang Gengsi Di Hari Kemerdekaan


Hari kemerdekaan merupakan hari yang pasti ditunggu - tunggu bagi seluruh rakyat indonesia. Berbagai lapisan masyarakat seakan kompak menyambut hari itu dengan sebuah bendera dan umbul - umbul di depan rumah. Warna merah putih pun seakan menjadi menambah beban berat saat mau pergi bekerja ke kota gresik.

Disaat ku lihat bendera yang melambai - lambai dari kaca bus jurusan bojonegoro - gresik, semakin berat hati ini. Aku bukanlah pegawai pabrik di kota gresik. Melainkan hanya sebuah kuli bangunan yang saat ini membangun sebuah perumahan di grha amerta bunder di kota gresik. Dan kerena itulah membayangkan kemeriahan agustusan di kampungku sendiri semakin menambah beban batin saat keberangkatanku mau bekerja.

 Pertarungan batin pun semakin sengit di dalam jiwaku. Antara menghargai kemerdekaan atau memilih pekerjaan. perayaan yang meriah ditahun - tahun kemarin terus terbayang dikepalaku dan membuat cemas jiwaku. Seakan jiwa ini belum merasakan kemerdekaan, namun tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga untuk menafkahi anak dan isteri seperti sebuah gembok yang terkunci dan harus tetap berangkat bekerja apapun yang terjadi.

“Kacang , kacang, tahu, tahu, aqua” suara penjual minuman didalam bus dari ujung depan menuju ke belakang berhasil memecah suasana keheningan didalam bus. Sesekali pengamen pun terdengar menyanyikan lagu iwan fals membuat hati ini lebih tenang karena petikan gitar sang pengamen.

Tak terasa sang kernet sudah teriak ” bunder, bunder,”. Itu pertanda bua yang kutumpangi telah sampai ke terminal bunder kabupaten gresik. Dan langsung ku naik angkot untuk menuju ke perumahan yang saya bangun.

Masuk disebuah perumahan, bendera kecil - kecil berukuran telapak tangan yang di lem memanjang pada sebuah benang menyambutku di atas jalan perumahan dengan posisi menyilang di atas jalan setinggi 4 meter. Dan paving - paving didepan rumah warga pun telah di cat merah putih walau hanya paving yg berada ditepian jalan, karena memang jalan di perumahan bukan di aspal melainkan dipaving seperti SPBU.

 Sesampai diperumahan yang aku bangun, para pekerja bangunan atau temen- temenku telah selesai bekerja, lantaran aku nyampek sudah pukul 5 sore dan aku langsung menuju sebuah bedeng tempat dimana aku tidur, dan dibedeng telah riuah teman - temenku yang berkumpul saat usai kerja.

Dari obrolan temenku di bedeng yang ku dengarkan, katanya kita para pekerja proyek di undang oleh pak RT untuk ikut memeriahkan acara agustusan yang di mulai malam ini, acaranya di mulai pukul 19 wib hingga selesai. Para pekerja boleh mengikuti berbagai perlombaan untuk memeriahkan kemerdekaan. ” mantappppo nieeeee,,, ada ramai - ramai nie walau di kota orang” pikirku dalam hati.

Jeda sekitar 20 menit dari adzan isya’ para pekerja proyek berjalan beriring-iringan menuju lokasi diadakannya perlombaan. Tak ketinggalan pak gani selaku mandor juga antusias menuju lokasi. Dilokasi telah riuh anak - anak, ibu, dan bapak yang di hiasi lampu kelap - kelip dengan balutan lampion dari sedotan bekas. Menambah hikmat perayaan di malam hari. Dan suara speaker sound system ukuran 300 watt rakitan telah memecah keheningan malam.

Riuh pun pecah saat lomba ambil koin di semangka akan di mulai, beberapa peserta yang dipanggil mulai menghadap ke semangka yang telah di gantung setinggi leher orang dewasa. Firman,,, yanto,,,pak rohmad,,very…..panggil sang panitia lomba. Sorakan mewarnai lomba saat yanto sebagai perwakilan pekerja proyek hadir dan siap mengambil koin. satu….dua…tiga…lomba pun di mulai, sorak sorai pun semakin riuh. 

Tak ada gengsi diwajah peserta lomba, tak ada sekat sosial yang tampak diarea perlombaan. Semua membaur bersama, disaat semua berfikir pada satu tujuan untuk memeriahkan hut kemerdekaan. 

 Dengan wajah yang cengar - cengir, yanto mulai menarik koin dengan giginya dan wajahnya tampak gelepotan hitam terkena oli karena terkena oli yg dilumurkan ke semangka. Terkadang sedikit berayun-ayun semangka yg digantung lantaran tarikan peserta untuk mencabut koin yg ditancapkan ke semangka. Tiba - tiba para penonton pun ketewa ke arah yanto, aku pun langsung memandang ke arahnya. Tak disangka, gigi palsu yanto copot dan jatuh ke tanah saat digunakan menarik koin.pak RT dan para warga pun tertawa lepas melihat hal itu. Aku dan pekerja proyek pun ketawa setengah mati sampai perut kaku. Langsung dengan cepat yanto mengambil dan memasangnya kembali. Sang penitia dengan speaker berteriak very,,very,,very Langsung dari ujung peserta lomba ambil koi, very memenangkan perlombaan. 

Perlombaan selanjutnya, lomba sepeda lambat, lomba balap karung dan lomba makan mie panas. Namun karena saya udah ngantuk berat terpaksa meninggalkan tempat perlombaan dan menuju tempat dimana aku melakukan tidur malam ditempat proyekku berada. 

Dan disaat aku terlentang dengan ditutupi selimut loreng tubuhku, aku mulai berfikir bahwa kemerdekaan itu bukan hanya kebebasan yang kita raih. Tetapi kemerdekaan saat ini adalah harus disertai tanggung jawab pada generasi berikutnya.


Tag : opini

-